Jumat, April 05, 2013

Tentang ...

"According to Greek mythology, humans were originally created with 4 arms, 4 legs, and a head with 2 faces. Fearing their power, Zeus split them into two separate parts, condemning them to spend their lives in search of their other halves"
     Cerita diatas cukup menarik, bahwa awalnya manusia diciptakan 4 tangan, 4 kaki, dan 2 wajah. Namun dewa langit takut akan kekuatannya, maka ia membelah menjadi dua bagian dan menghukum manusia dengan menghabiskan waktu hidupnya untuk mencari bagian dirinya yang hilang.
Namun tetap saja, cerita berikut ini jauh lebih menarik. Cerita dari langit, dan yang ini jelas cerita nyata.

     "Semua bentuk kesenangan ada didalamnya, namun Adam a.s tetap merasa kesepian di Syurga. Walaupun Adam a.s malu untuk mengadukannya, Allah SWT Maha Mengetahui apa yang ada di pikirannya. 

     Saat Adam a.s merindukan kawan untuk mengusir kesepiannya, ia sedang duduk-duduk beralaskan permadani mewah, karena mengantuk ia tertidur. Saat itu Allah SWT memberikan wahyu kepada malaikat jibril untuk mencabut tulang rusuk Adam a.s dari lambung sebelah kiri, maka dari tulang rusuk tersebut, "Kun!"  terciptalah Hawa sebagai penghuni kedua SyurgaNya.

     Hawa sedang duduk bersandar sambil memandang Adam a.s yang mempesona, sinyal-sinyal kekaguman Hawa diterima Adam a.s sebagai sebuah mimpi, maka ia bangun dari tidurnya dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok manusia sejenisnya, Hawa yang diciptakan lengkap dengan rasa malu berbalik menyembunyikan bukit-bukit di dadanya sambil melirik dan tersenyum manja.

     Hawa tercipta dihiasi kecantikan, kemanisan, kehalusan, kelembutan, kasih-sayang dan sifat keibuan menjadi wanita tercantik yang menghiasi Syurga. Maka kecantikan itu akan diwariskan turun temurun kepada wanita-wanita yang datang dibelakangnya.

     Adam a.s terpikat pada rupa Hawa yang jelita, maka Allah SWT menanamkan asmara murni dan hasrat birahi di hati Adam a.s. Dengan merayu ia berkata "Aduh, hai si jelita, siapakah gerangan kekasih ini? Dari manakah datangmu, dan untuk siapakah engkau disini?"
dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang Hawa menjawab "aku Hawa, aku dari pencipta, a..aku...aku...diciptakan untukmu "

     Adam a.s yakin  bahwa Hawa memang diciptakan untuknya, lalu ia berseru "Kekasihku, ke marilah engkau!" Hawa menolak dengan ramah "Aku malu!,  Kalau engkau yang inginkan aku, engkaulah yang ke sini!"

     Maka Adam a.s tanpa ragu melangkah mendekati Hawa namun Hawa bangkit dan mundur beberapa langkah. Adam a.s mengerti bahwa Hawa adalah wanita yang berbudi dengan sifat malu-nya, namun ia yakin ini bukan perbuatan dosa. Maka Adam mengulurkan tangannya.

     Tiba-tiba terdengarlah panggilan ghaib berseru:
“Hai Adam....tahanlah dirimu. Pergaulanmu dengan Hawa tidak halal kecuali dengan mahar dan menikah!” Maka terjadilah pernikahan pertama dalam sejarah umat manusia, dilangsungkan di Syurga dan dihadiri oleh para bidadari, jin dan malaikat.

Dengan dilangsungkannya pernikahan agung tersebut, maka Adam a.s tak lagi kesepian di Syurga."

Cita-cita

     Kemarin malam saya sempat tersadarkan oleh sebuah pertanyaan. Pertanyaan klasik yang lama tak ku dengar, kini kembali mengantarkanku ke alam khayal yang nyaman.
"kak, cita-citanya apa?", tanya muridku di sela-sela pelajaran. Pertanyaan yang dulu mudah kujawab, kini serasa pedang yang siap menyerang.
Ya, dulu dengan enteng ku jawab "professor", hal yang keren menurutku dulu.
Dari kecil suka sains, bacaan waktu SD buku paket fisika SMA, tiap keperpus sekolah baca ensiklopedi sains, suka bereksperimen di rumah pake magnet, listrik, karet dll.
Oke, dengan percaya diri kuputuskan tuk jadi professor.

     Tapi waktu memberimu pilihan, semakin bertambah usia semakin luas pergaulan kita. Hingga cita-cita itu kembali dipertanyakan.
"yang bener lu mau jadi professor? mau botak trus pake kacamata tebel gitu??"
Berkenalan dengan pengetahuan yang baru, mengunduh kesan-kesan yang baru, semuanya mempengaruhi arah hidup ini.

     Hingga kedewasaan menghampiri, membuatmu realistis, tak berani bermimpi, takut gagal, dan disuguhi masa depan yang nyata.
Dengan terpaksa kuhapus dan kuganti dengan yang impian yang jauh lebih nyata. "Buat apa mimpi tinggi-tinggi sekarang, udah dewasa boy, get a real life".
...
Lalu kujawab kembali pertanyaan itu "mungkin dosen, analis perusahaan atau aktuaris ..."

Seperti gelas yang terisi penuh, kau harus berani mengosongkannya untuk dapat mengisi air yang baru.

Belajar Bicara

     Komunikasi adalah proses bertukar informasi antar dua pihak atau lebih, berasal dari bahasa latin communis yang berarti "sama". Teringat pesan dari kakak kelas saat meng-ospek adik kelas, "kalau pesan kalian mau didengar mereka, samakan suhu kalian dengan mereka dan jangan cuma bicara tanpa arti".
     Ya, Hidup memang proses belajar tanpa henti. Tidak harus dari guru, kita bisa belajar dari siapa saja, walau benda mati sekalipun. Salah satu hal yang perlu dipelajari adalah berbicara. Lahh,,  memang apa susahnya bicara? tentunya bukan cuma bicara asal saja.
Kita sudah mulai belajar bicara sejak balita, dari mulai panggil mama papa sampai mengoceh semaunya, malah bisa berbincang dengan orangtua-nya. Semakin besar kita menyadari bicara adalah sebuah alat untuk berteman, tukar informasi, berekspresi, dan lain lain. Namun setelah dewasa, bicara menjadi lebih penting. Ia menjadi media untuk menyelesaikan masalah.

     Tapi kadang, justru berbicara adalah sebuah masalah. Ga PD, takut salah ngomong, dan grogi menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Hingga hal tersebut menghambat produktifitasnya. Maka memulai bicara dapat mendorong kita untuk lebih percaya diri, karena kadang keberanian lebih penting dari kesiapan.
Mungkin beberapa telah berani memulai bicara, namun bicara masih belepotan / masih tidak terstruktur, apalagi didepan publik. Nah, disini baru buat persiapan yang matang, jangan lupa untuk terus berlatih bicara dalam setiap kesempatan, ga masalah ditertawakan saat bicara tidak lancar atau masih salah-salah, itu adalah proses belajar. Setiap orang pasti melalui itu.

     Nah, kalo udah sampai sini tuntutan skill jauh lebih tinggi. Karena di beberapa tempat, mereka tidak hanya membutuhkan orang yang berbicara lancar, namun memiliki seni dalam berbicara.
Contoh di beberapa tempat diperlukan orang yang dalam berbicara memiliki efek persuasif, orang yang jago meyakinkan seseorang, mempengaruhi seseorang dan lain-lain.  Kadang kemampuan tersebut memang bawaan atau dengan latihan yang mendalam. Yang jelas bukan digunakan untuk hal-hal yang merugikan pihak lain.
Sekali lagi, hidup adalah proses belajar, mari kita perbaiki lagi cara bicara kita, karena belajar tidak mengenal kata berhenti.